Annisa Riza
Minggu, 13 Desember 2015
garis batas
Saat sehari ku menangis merindu,saat ku ingin melewati garis batas antara diriku dan dunia luar. Bayang akan kebersamaan kita terlintas dalam fikirku. Saat sebelah kakiku melintasi batas hati, aku tersadar dengan apa yang kulakukan. Apakah bemar jalan yang ku pilih ? Aku ragu,bimbang,gelisah menentukan pilihan tersebut. Aku lari menjauh dari garis batas menuju ke sudut hati yang tergelap. Meringkuk dalam rindu yang tak berbalas. Menangis tersedu hingga tenggorokan ini tercekat. Sebenarnya apa yang ada dalam inginku ? Picikkah saat aku menginginkan mu kembali ke pelukku? Saat aku menangis dengan setulus hati merindumu. Esok harinya kau buatku lebih hancur dari serpihan kaca yang terinjak. Sebenarnya apa maumu ? Menyakiti ku sampai aku mati ? Sampai aku kehabisan darah? Sampai aku seperti zombie? Tak perlu kau lakukan hal bodoh tuk menyakitiku. Perginya dirimu melukaiku terlalu jauh. Apa kau tak pernah sadar ? Aku termenung dalam gelapnya hati,dinginnya jiwa,kesepian yang mendera. Jarak kira hanya selangkah namun mengapa tuk meyentuhmu sejengkal pun sulit ? Inikah rindu yang tak pernah berbalas ? Haruskah aku melangkah melewati batas diriku dirimu dan dunia luar ? Aku terlalu takut tuk melangkah ke dunia luar, namun terlalu sakit tuk menunggumu dan bertahan di gelapnya hati ini. Harus apa kah aku ? Pergi ? Atau bertahan pada orang yang tak pernah mengharapkanku sama sekali ?
Rabu, 09 Desember 2015
tulus
Lagi dan lagi. Sekejam itukah dirimu padaku ? Aku disini menunggu dalam gelapnya hati, sunyi dingin. Memeluk erat namamu dengan penuh cinta.lalu apa yang kau lakukan ? Membuka pintu hati untuk wanita lain ? Bersenang senang dan tak pedulikanku yang menantimu pulang padahal kau tau ku disini setia menunggumu. Sesakit inikah mencintaimu ? Harus apalagi bukti agar kau tau disini ku tulus mencintaimu. Kau bagaikan duri mawar. Indah, namun menyakitkan saat ingin ku jangkau,ingin ku rengkuh dirimu. Bisakah kau mengerti? Logikaku berkata tuh bermain dengan lainnya tapi hatiku tak mampu temukan yang sedemikian indah seperti dirimu. Kenapa aku bagai burung dalam sangkar. Tuhan, jika memang dia bukan untukku tunjukkanlah. Aku terlalu lelah tuk mengejar cinta yang lain, terlalu terpaku pada satu ciptaanmu tersebut. Aku terlalu takut akan luka hati. Terlalu tulus mencintai dirinya yang pernah mengisi kosongnya dan dinginnya hatiku. Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu? Bodohkah saat diriku tetap menunggumu walau bagai pungguk merindukan bulan.
Selasa, 08 Desember 2015
Hujan
aku tau hujan pembawa kesedihan,kekecewaan,rindu,dan terpenting menyimpan banyak kenangan. derai hujan yang sendu membawa kita kembali dengan apa yang sudah kita lewati bersama. jika rasa pun sukar sirna apalagi kenangan indah yang selalu membekas sampai relung jiwa.
first time
desiran angin membawa ku ke banyaknya untaian kata yang hanya tersirat dirimu. terimakasih
Langganan:
Postingan (Atom)